May 5

Saya bicara dalam konteks sistem informasi rumah sakit. Namun, bisa juga dihubungkan dengan konteks lain yang mungkin juga berhubungan dengan apa yang akan saya bicarakan ini.

Jangan salah persepsi dengan title diatas. Sistem informasi yang akan sangat menguras tenaga adalah sistem informasi yang ‘tanggung’ atau ’setengah jadi’. Bukan hanya tenaga, mungkin pikiran juga akan banyak menyedot otak. Baik, sebenernya apa keuntungan menggunakan sistem informasi ?

  1. Data valid
  2. Data mudah disimpan dan diambil / akses mudah
  3. Mampu melakukan komputasi data dengan volume yang besar
  4. (yang terpenting) Mampu meringankan pekerjaan
  5. dan lain sebagainya

Point no. 4 tentu adalah suatu keuntungan yang sangat diharapkan. Namun bagaimana jika sistem informasi yang digunakan dalam sebuah rumah sakit hanya sistem informasi yang ‘tanggung’ atau bisa disebut ’setengah jadi’ ? Misal ilustrasi : sistem informasi tersebut menyediakan tempat untuk entry data (berbagai macam data), namun sistem informasi tersebut tidak dapat merekap data-data yang sudah dientrykan alias tidak dapat ditarik menjadi sebuah laporan apapun. Wah, bencana. Mengesalkan. Tidak mengasyikkan. Hoho

Sementara sistem informasi tidak dapat menghasilkan output (rekap/laporan), sering kali ada tuntutan untuk merekap data-data tersebut untuk keperluan Dinas Kesehatan ataupun internal rumah sakit, entah bagaimana caranya. Alhasil, langkah manual-lah yang akan ditempuh.

Langkah manual bisa diartikan merekap data-data untuk diolah menjadi laporan/rekapan yang dilakukan dengan cara non ataupun semi-otomatis. Tidak seperti sistem informasi yang begitu ‘klik’, laporan/rekapan sudah langsung jadi. Sebenarnya langkah manual bukan cara yang dirasa sangat kuno. Hanya saja langkah ini dirasa sangat memakan waktu dan (mungkin) validasi laporan tidak 100% benar. Disinilah letak boros tenaga dan pikirannya.

  1. Proses manual butuh waktu lama >> berarti akan menyita tenaga yang bisa digunakan untuk mengerjakan hal lain selain pekerjaan tersebut.
  2. Validasi laporan diragukan >> berarti akan menguras otak untuk selalu teliti dan tidak salah dalam merekap/membuat laporan. Bila ternyata tidak cocok, maka otak harus kembali diputar.
  3. Kebijakan yang harus dilakukan *)

*) Maksudnya, kebijakan untuk tetap menggunakan sistem informasi yang sudah diketahui tidak dapat merekap data dengan asumsi bahwa bila suatu saat sistem informasi yang ‘tanggung’ ini selesai, maka semua data dalam database bisa lengkap. (kebijakan ini tidak langsung bisa disalahkan, karena memang ada benarnya juga). Ya, berharap aja supaya sistem informasi tersebut bisa benar2 diselesaikan.

Contoh kasus : beberapa bulan yang lalu ada pertemuan rutin di Dinas Kesehatan Propinsi DIY, dan disana dipaparkan rumah sakit rumah sakit mana yang terlambat (atau bahkan tidak) mengumpulkan laporan surveilans rumah sakit. Ada salah satu rumah sakit swasta di Jogja yang cukup terkenal yang ditunjuk. Mereka beralasan bahwa sistem informasi rumah sakit mereka yang tidak perfect. Data-data yang diinput tidak dapat merekap menjadi sebuah laporan. Sangat disayangkan, padahal laporan surveilans merupakan laporan yang benar-benar dibutuhkan oleh Dinas Kesehatan. (note: sebenarnya saya tidak begitu setuju dengan alasan ini, karena bagaimanapun juga - dan entah bagaimana cara membuatnya, laporan surveilans harus tetap dilaporkan).

Lantas apakah tidak ada solusi ? Manajemen SDM pelaksana bisa menjadi solusi. Bila jobdisk diatur sedemikian rupa, dengan perbandingan beban kerja yang pas maka hal ini akan sedikit membantu memecahkan masalah.

Mar 29

Perjalanan perjalanan perjalanan

(1) : Tugu Jogja > St. Jakarta Kota > KRL to St. UI Depok > KRL to St. Bogor > Angkot no. 03 > Angkot Jurusan Sukabumi > Lido Lake Resort

(2) : Lido Lake Resort > muter2 dianter Bogor pake Jazz (ono sing mabuk barang) > hotel Bumi Wiyata Depok (ga iso ngecilin AC, kademen)

(3) : Hotel Bumi Wiyata > Angkot No.122 to St. UI Depok > KRL to St. Tanah Abang > Turun di Manggarai (mo maem dulu) > KRL lagi to St. Tanah Abang > Angkot No. (lali) > Pasar Tanah Abang > Gramedia

(End) : Gramedia > naek taksi ke halte > naek bus to St. Pasar Senen > back to jogja

Mar 10

Telah hilang, Nokia (tipe berapa ya ? lali jeh aku), dengan kartu im3 (085643333xxx) di dalamnya. Hilang di daerah Prambanan 09/03/2009 sekitar pukul 11.00 WIB. Bagi yang menemukan/mengambil, kembalikanlah, Anda akan mendapat imbalan ‘Terima Kasih’ sebanyak 3 kali dariku. Yo wes, ngono wae berita kehilangannya.

Feb 1

Perang ganbon tidak terelakkan ketika 3 orang bertemu dalam 1 area. Tepatnya tanggal 31 Januari 2009, malam hingga dini hari, perang ganbon bergemuruh. Tantos/Yoyoke VS Hanunk/Partner (partner berubah-ubah). Berpuluh bertandingan dimainkan dengan dasyat. Perang mulut pun terjadi (misuh2 ngundang sedulur2e) sehingga ada beberapa partner Hanunk yang harus di ‘kick’.

Dengan style kacamata baru, Yoyoke mulai membungkam Hanunk/Partner. Padahal kacamatanya sing nukokke di Hanunk (nuwun lho Nunk). Tantos dengan style payung daunnya juga tidak mau tinggal diam. Dengan berbagai macam cara dan gaya. Hanunk tidak mau mengalah. Tetap berusaha sekuat tenaga. Namun, hasilnya tetap NIHIL, karena Tantos/Yoyoke dirasa sangat kuat.

Intinya : who is real losser ganbon ? jawablah sendiri dengan kata hati Anda

Jan 29

Huh,,,akhirnya jadi wp-user juga,,,setelah sekian lama berkutat pada web buatan sendiri (yang templatenya cuma nggabut) yang ga ganti2 tampilannya. Ditengah rintik hujan, disudut kamar (kamare tantos), dan juga ditengah gemuruh perang Gunbound,,, WP ini akhirnya diinstall. Hore hore.