Feb 11

WASPADA,,,KASUS ACUTE FLACCID PARALYSIS (AFP)

Polio, males banget kalo masih ada anak Indonesia yang terjangkit virus itu. Gimana enggak ? Secara seluruh tingkatan pelayanan kesehatan sudah menyediakan yang namanya vaksin polio. Bahkan vaksin ini juga bisa didapat dengan secara cuma-cuma di puskesmas.

Gejala-gejala timbulnya polio didahului dengan apa yang disebut AFP. Kasus AFP atau Acute Flaccid Paralysis merupakan penyakit dengan gejala lumpuh layuh/lumpuh mendadak dan bukan karena kecelakaan, yang mungkin dalam tubuh penderitanya terjangkit virus polio. AFP bukan merupakan diagnosa, namun tanda2/gejala. Terdapat beberapa diagnosa yang dapat diidentifikasikan sebagai kasus AFP, misal : tetraparese, chikungunya, dsb.

Data yang saya peroleh dari pertemuan Dinas Kesehatan Propinsi DIY, desember 2008 yang lalu, masih banyak anak-anak Indosesia yang terjangkit AFP. Meskipun demikian, anak-anak dengan kasus AFP bukan berarti lantas menyandang predikat sebagai anak yang terjangkit polio.

Anak dengan kasus AFP, selanjutnya akan diambil sampel feces-nya untuk diteliti lebih jauh. Apakah di dalam feces anak yang bersangkutan mengandung virus polio atau tidak. Nah, disinilah peran tenaga kesehatan benar-benar diperlukan, bukan hanya sebagai perawat anak / pasien saja, namun juga secara profesional ikut berkecimpung terhadap kasus AFP. Petugas harus mengambil sampel feces anak-anak dengan kasus AFP dan mengirim sampel itu ke laboratorium untuk diteliti (dapat juga dikirim ke Balai Laboratorium Pemerintah). Selain itu, petugas kesehatan harus dengan cepat dan tanggap melaporkan temuan kasus AFP ini kepada Dinas Kesehatan terkait.

Mengapa harus dilaporkan ? Ingat,,,program bebas polio bukan merupakan program biasa-biasa saja. Program bebas polio adalah program WHO untuk semua wilayah atau negara (dan konon, Indonesia merupakan negara dengan penyandang status bebas polio - tapi aku ga tau dink). Apa artinya ? Polio benar-benar harus diawasi. Polio harus benar-benar dimusnahkan. Polio benar-benar harus dihentikan penyebarannya. Dan intinya, polio harus dibumihanguskan dari muka bumi Indonesia. Hwohohohoho.

Bagaimana langkah-langkah pelaporannya ?

(1) Petugas kesehatan rumah sakit / puskesmas melaporkan ke bagian rekam medis / administrasi / TU apabila menemukan pasien dengan gejala AFP (lumpuh layuh mendadak dan bukan karena kecelakaan - apapun bentuknya)

(2) Petugas kesehatan rumah sakit / puskesmas mengambil sampel feces penderita untuk dilakukan pengecekan lebih lanjut di laboratorium (biaya pemeriksaan laboratorium atau biaya kirim bisa di diajukan ke Dinkes untuk diganti - katanya).

(3) Petugas rekam medis membuat laporan (format biasanya sudah disosialisasikan oleh Dinkes) dan langsung mengirim/melaporkan kepada Dinkes terkait.

(4) Apabila perlu, telpon langsung ke Dinkes terkait, untuk melaporkan kejadian yang terjadi.

(5) Petugas Dinkes akan segera memfollow-up laporan tersebut.

Sungguh merupakan langkah-langkah pelaporan yang sangat sederhana. Dan seharusnya ini bisa dilakukan oleh instansi kesehatan manapun (faktanya - mungkin masih ada beberapa instansi / tenaga kesehatan yang acuh terhadap laporan ini).

Apakah langkah ini hanya bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan yang bekerja di instansi kesehatan (rumah sakit / puskesmas) ? TIDAK. Masyarakatpun bisa ambil andil dalam pelaporan ini. Apabila menemukan kasus AFP, dapat langsung menghubungi Dinkes terkait, atau instansi-instansi kesehatan yang ada.

Lantas apa yang dilakukan Dinas Kesehatan pasca laporan itu diterima ? Sejauh yang saya tau, Dinas Kesehatan akan benar-benar memantau perkembangan si-penderita, dari sampel masuk ke laboratorium hingga hasilnya keluar. Dinas Kesehatan juga akan meninjau langsung lokasi tempat tinggal di-penderita untuk mencegah kasus-kasus AFP berkembang di wilayah tersebut. Biasanya, dengan menelusuri riwayat kontak si-penderita dengan si-pembawa kasus, melakukan sosialisasi dan penyuluhan, hingga memberikan vaksin ke warga di sekitar wilayah tempat tinggal si-penderita.

Kesimpulannya : Laporan kita menjadi ujung tombak untuk memberantas virus polio menyebar di Indonesia

Feb 1

Perang ganbon tidak terelakkan ketika 3 orang bertemu dalam 1 area. Tepatnya tanggal 31 Januari 2009, malam hingga dini hari, perang ganbon bergemuruh. Tantos/Yoyoke VS Hanunk/Partner (partner berubah-ubah). Berpuluh bertandingan dimainkan dengan dasyat. Perang mulut pun terjadi (misuh2 ngundang sedulur2e) sehingga ada beberapa partner Hanunk yang harus di ‘kick’.

Dengan style kacamata baru, Yoyoke mulai membungkam Hanunk/Partner. Padahal kacamatanya sing nukokke di Hanunk (nuwun lho Nunk). Tantos dengan style payung daunnya juga tidak mau tinggal diam. Dengan berbagai macam cara dan gaya. Hanunk tidak mau mengalah. Tetap berusaha sekuat tenaga. Namun, hasilnya tetap NIHIL, karena Tantos/Yoyoke dirasa sangat kuat.

Intinya : who is real losser ganbon ? jawablah sendiri dengan kata hati Anda